Minggu, 06 Januari 2019




TUGAS 7
PENGENDALIAN BANJIR DAN KEKERINGAN


Banjir dan kekeringan merupakan satu paket permasalahan umum yang terjadi di sebagian wilayah Indonesia, terutama di daerah padat penduduk misalnya dikawasan perkotaan. Oleh karena itu kerugian yang ditimbulkannya besar baik dari segi materi maupun kerugian jiwa, maka sudah selayaknya permasalahan banjir dan kekeringan perlu mendapatkan perhatian yang serius dan merupakan permasalahan kita semua. Dengan anggapan bahwa, permasalahan banjir dan kekeringan merupakan masalah umum, sudah semestinya dari berbagai pihak perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mengakibatkan banjir dan kekeringan dan sedini mungkin diantisipasi, untuk memperkecil kerugian yang ditimbulkan.
Gambar 1. Kondisi Wilayah yang Terdampak Banjir dan Kekeringan 

Program pengendalian banjir dan kekeringan membutuhkan dana besar yang diperlukan untuk pembiayaan pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pengamanan maupun pengendalian banjir dan kekeringan. Di samping itu, masyarakat yang berada pada daerah rawan banjir dan kekeringan setiap saat memerlukan rasa aman dari pengaruh akibat banjir dan kekeringan. Dengan dana yang terbatas pengendalian banjir dan kekeringan harus dilakukan seoptimal mungkin dan dilaksanakan menurut rencana dan prioritas yang baik. Akibat peningkatan penduduk, lahan yang dibutuhkan akan makin besar sehingga juga meningkatkan nilai ekonomis penggunaan lahan. Oleh karena itu di daerah yang padat penduduknya, pekerjaan pengendalian banjir dan kekeringan perlu ditingkatkan.

Dengan kata lain pengendalian ini bertujuan untuk memperkecil tingkat resiko bahaya/kerugian akibat banjir dan kekeringan yang akan timbul. Atas dasar pertimbangan pengendalian banjir dan kekeringan yang baik, maka disamping penyelesaian konstruksi fisiknya perlu adanya monitoring, evaluasi, rencana perbaikan dan pemeliharaan yang kontinyu.

A.      Pengertian Banjir

Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan dan terjadi karena limpasan air banjir dari sungai karena debit banjir tidak mampu dialirkan oleh alur sungai atau debit banjir lebih besar dari kapasitas pengaliran sungai yang ada.

B.       Sebab Terjadinya Banjir

Banyak faktor menjadi penyebab terjadinya banjir, diantaranya:
1.       Curah Hujan yang tinggi
2.       Pengaruh Fisiografi atau geografi fisik sungai
3.       Erosi dan Sedimentasi
4.       Kapasitas Sungai
5.       Pengaruh air pasang
6.       Perubahan Kondisi DPS ( Daerah Pengaliran Sungai )
7.       Kawasan Kumuh
8.       Membuang Sampah Sembarangan
9.       Drainase Lahan yang tidak tepat
10.   Kapasitas Drainase yang tidak memadai
11.   Kerusakan bangunan pengendali banjir
12.   Perencanaan sistem pengendali banjir tidak tepat
C.       Dampak Banjir

1.       Terganggunya kegiatan sehari-hari yang berupa kemacetan lalu lintas dan gangguan listrik, tindak kriminal dan lain-lain.
2.       Menghambat Laju Perekonomian daerah yang terdampak banjir
3.       Bangunan-bangunan yang roboh akibat banjir dengan debit yang besar dapat menumbangkan pohon, yang dapat menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
4.       Dari sisi pariwisata banjir yang sering terjadi dapat mengurangi intensitas kedatangan wisatawan mancanegara ke daerah-daerah wisata, dan juga masalah keamanan yang selama ini diwaspadai.
5.       Selain itu,dari sisi kesehatan air genangan banjir dapat menyebabkan munculnya bibit-bibit penyakit seperti malaria dan demam berdarah yang disebabkan oleh nyamuk, pes yang berasal dari kotoran tikus, diare dan gangguan kulit meliputi gatal-gatal, kutu air, kadas dan kurap dari air genangan banjir yang kotor.
6.       Dari sisi sosial, keadaan yang rawan banjir dapat menurunkan citra bangsa karena tidak mampu menangani masalah yang sudah menjadi “annual problem “ bahkan meluas ke daerah-daerah yang sebelumnya merupakan daerah yang aman dari banjir.
D.       Pengendalian Banjir

Pengendalian banjir merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya air yang lebih spesifik untuk mengontrol hujan dan banjir. Pada dasarnya kegiatan penanggulangan banjir adalah suatu kegiatan yang meliputi aktifitas sebagai berikut :
1.       Mengenali besarnya debit banjir 
2.       Mengisolasi daerah genangan banjir 
3.       Mengurangi tinggi elevasi air banjir 
a)      Metode Struktur atau Bangunan

Kegiatan penanggulangan banjir dengan bangunan pada umumnya mencakup kegiatan berikut:
1.       Perbaikan sungai atau pembuatan tanggul banjir untuk mengurangi besarnya
resiko banjir di sungai.
2.       Pembuatan saluran (floodway) untuk mengalirkan sebagian atau seluruh air sungai.
3.       Pengaturan sistem pengaliran untuk mengurangi debit puncak banjir, dengan bangunan seperti bendungan, kolam retensi dll.

Untuk menunjang keberhasilan pengendalian banjir diperlukan kegiatan pengelolaan dan perbaikan sungai, untuk meningkatkan kapasitas sungai pekerjaan ini meliputi :
1.       Menambah dimensi tampang alur sungai
2.       Memperkecil nilai kekasaran alur sungai
3.       Pelurusan atau pemendekan alur sungai pada sungai berbelok atau bermeander.
4.       Pengendalian transpor sedimen.

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis bangunan pengendalian banjir adalah sebagai berikut :
1.       Pengaruh regim sungai terutama erosi dan sedimentasi dan hubungannya dengan biaya pemeliharaan.
2.       Kebutuhan perlindungan erosi di daerah kritis
3.       Pengaruh bangunan terhadap lingkungan
4.       Pengaruh bangunan terhadap kondisi aliran di sebelah hulu dan sebelah hilirnya

Bangunan Pengendali Banjir 
1.       Bendungan
2.       Kolam penampungan
3.       Tanggul Penahan Banjir 
4.       Saluran By pass
5.       Sistem pengerukan/normalisasi alur sungai
6.       Sistem drainase khusus
b)      Metode Non-Struktur

Analisis pengendalian banjir dengan tidak menggunakan bangunan pengendali akan memberikan pengaruh cukup baik terhadap regim sungai. Contoh aktifitas penanganan tanpa bangunan adalah sebagai berikut :
1.       Pengelolaan DPS untuk mengurangi limpasan air hujan DPS
2.       Kontrol pengembangan daerah genangan termasuk peraturan-peraturan penggunaan lahan.
3.       Konstruksi gedung atau bangunan yang dibuat tahan banjir atau tahan air 
4.       Sistem peringatan dan ramalan banjir
5.       Rencana asuransi nasional atau perorangan, yaitu:
a.       Rencana gerakan siap siaga dalam keadaan darurat banjir 
b.      Pengoperasian cara kerja pengendalian banjir 
c.       Partisipasi masyarakat
Untuk mendukung kedua metode di atas perlu dilakukan juga penghijauan. Dengan melakukan penanaman pohon-pohon di kawasan tangkapan hujan, dapat meningkatkan daya resap tanah terhadap air hujan. Semakin banyak pohon yang ditanam maka semakin banyak pula jumlah air yang terinfiltrasi ke dalam tanah sehingga tidak langsung mengalir menjadi surface run-off.

Cara penanganan pengendalian banjir secara umum Pengendalian banjir pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun yang penting adalah dipertimbangkan secara keseluruhan dan dicari sistem yang paling optimal. Kegiatan pengendalian banjir menurut lokasi/daerah pengendaliannya dapat dikelompokkan menjadi dua (2) :

1. Bagian atas : yaitu dengan membangun dam pengendali banjir yang dapat memperlambat waktu tiba banjir dan menurunkan besarnya debit banjir, pembuatan waduk lapangan yang dapat merubah pola hidrograf banjir dan penghijauan di Daerah Aliran Sungai.

2. Bagian hilir, yaitu dengan melakukan normalisasi alur sungai dan tanggul, sudetan pada alur yang kritis; pembuatan alur pengendali banjir atau flood way; pemanfaatan daerah genangan untuk retarding basin dsb.
E.    Kekeringan

Kekeringan adalah keadaan kekurangan pasokan air  pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun). Biasanya kejadian ini muncul bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata. Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan kekeringan karena cadangan air tanah akan habis akibat penguapan (evaporasi), transpirasi, ataupun penggunaan lain oleh manusia. Kekeringan dapat menjadi bencana alam apabila mulai menyebabkan suatu wilayah kehilangan sumber  pendapatan akibat gangguan pada  pertanian dan ekosistem yang ditimbulkannya.

F.    Strategi Penanggulangan Kekeringan

                Sasaran penanggulangan kekeringan ditujukan kepada ketersediaan air dan dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan. Untuk penanggulangan kekurangan air dilakukan melalui: pembuatan sumur pantek atau sumur bor untuk memperoleh air, penyediaan air minum dengan mobil tangki, penyemaian hujan buatan di daerah tangkapan hujan, penyediaan pompa air, dan pengaturan pemberian air bagi pertanian secara darurat (seperti gilir-giring).
  
Untuk penanganan dampak, perlu dilakukan secara terpadu oleh sektor terkait, diantaranya:
1)      Pengalokasian program padat karya di daerah-daerah yang mengalami kekeringan.
2)      Peningkatan efisiensi penggunaan air melalui gerakan hemat air dan daur ulang pemakaian air.
3)      Pembuatan embung, sebagai penampung air hujan, embung dapat menjadi penyedia air pada saat musim kemarau tiba, terutama di awal musim kemarau. Keberadaan embung dapat menyelamatkan tanaman yang ”terjebak” oleh datangnya musim kemarau. Ketersediaan air dalam embung tergantung dari kapasitas embung itu sendiri. Dengan kata lain, semakin besar kapasitas embung, semakin lama air yang tersedia dan semakin banyak lahan yang bisa diairi.
4)      Memperbaiki saluran dan sarana irigasi, dewasa ini banyak sekali saluran irigasi yang kondisinya sudah rusak, temboknya retak-retak, dan lain-lain. Kondisi seperti ini akan memperbanyak kebocoran air di perjalanan. Sebab, air akan banyak meresap dan terbuang ke dalam tanah sehingga semakin ke hilir debit airnya makin berkurang. Karena itu, perbaikan saluran yang rusak dapat mempertahankan debit air dari hulu hingga ke tempat tujuan, hilir.
5)      Mengatasi waduk dari pendangkalan, salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pemeliharaan waduk adalah terjadinya pendangkalan. Pada tahap selanjutnya, pendangkalan dapat mengurangi kapasitas waduk dalam manampung volume air sehingga pada musim kemarau waduk cepat mengering. Salah satu penyebab pendangkalan adalah adanya sedimentasi butiran tanah yang di bawa oleh aliran sungai dari daerah hulu akibat rusaknya ekosistem hulu.
6)      Melakukan penghijauan dan mengurangi konversi lahan di daerah hulu, berkaitan dengan pendangkalan waduk, penghijauan dapat mengurangi terjadinya sedimentasi. Tanaman yang ditanam pada lahan-lahan kosong dapat menjaga/mengikat butiran tanah saat terjadi hujan. Tanaman yang rapat juga dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, mengurangi aliran permukaan dan penguapan sehingga air tanah akan tersedia lebih lama. Dengan demikian, pasokan air untuk waduk tetap kontinyu dengan fluktuasi debit yang relatif kecil. Sebaliknya, konversi lahan di derah hulu dapat mengurangi kemampuan lahan dalam menyerap air hujan. Akibatnya, pada saat musim hujan, air akan lebih banyak dialirkan melalui permukaan dan pada saat musim kemarau air cepat mengering sehingga pasokan air ke waduk tidak kontinyu.
7)      Memberikan peringatan dini akan terjadinya kekeringan, peringatan dini oleh instansi pemerintah (nasional dan daerah) sangat penting dilakukan. Adanya peringatan dini dapat memberikan pertimbangan dan informasi bagi para petani kapan harus menanam dan kapan tidak boleh menanam, sehingga tanamannya tetap aman dan tidak terjebak oleh musim kemarau.
8)      Memberikan bantuan pompa air, pada beberapa daerah, para petani memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pompa air. Pompa air sangat dibutuhkan pada saat pengadaan air dari irigasi tidak ada atau tidak mencukupi. Pada saat itu, salah satu upaya para petani dalam mengatasi kelangkaan air ini adalah dengan memompa air dari sungai-sungai atau sumber air sekitar. Karena itu, bantuan pengadaan pompa dari pemerintah dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi kekurangan air. Masalahnya, bahan bakar yang bisa menghidupkan mesin ini harganya telah melangit. Ketujuh, mengintensipkan pembuatan kincir air.

Pada beberapa tempat di Indonesia, pembuatan kincir air pada aliran sungai sudah dilakukan guna mengatasi kekurangan air bagi lahan pertanian. Pembuatan kincir ini hendaknya disosialisasikan oleh pemerintah kepada daerah lain yang memiliki aliran sungai, tapi belum membuatnya. Meski pengadaan bahan bakunya murah dan mudah didapat, pembuatan kincir ini sering mendapat kendala, yakni mengeringnya sungai. Karena itu, penghijauan di daerah hulu merupakan hal yang sangat penting dilakukan dalam mengatasi kekurangan air akibat kekeringan.
TUGAS 8
INFRASTRUKTUR KEAIRAN

A.     Bangunan Pengaturan Sungai

Bangunan pengaturan sungai adalah suatu bangunan air yang dibangun pada sungai dan berfungsi Mengatur aliran air agar tetap stabil, dan Sebagai pengendalian banjir. Jenis-jenis Bangunan Pengaturan Sungai, yaitu :

1.      Perkuatan Lereng ( Revetments )

Perkuatan lereng ( revetments ) adalah bangunan yang ditempatkan pada permukaan suatu lereng guna melindungi suatu tebing sungai atau permukaan lereng tanggul dan secara keseluruhan berperan meningkatkan stabilitas alur sungai atau tubuh tanggul yang dilindunginya. Perkuatan lereng terdiri atas 3 jenis yaitu :

Gambar 1. Jenis – Jenis Perkuatan Lereng

1)      Perkuatan lereng tanggul (levee revetment),
Dibangun pada permukaan lereng tanggul guna melindungi terhadap gerusan arus sungai dan konsdtruksi yang kuat perlu dibuat pada tanggul-tanggul yang sangat dekat dengan tebing alur sungai atau apabila diperkirakan terjadi pukulan air (water hammer).

2)      Perkuatan tebing sungai (low water revetment)
Perkuatan semacam ini diadakan pada tebing alur sungai, guna melindungi tebing tersebut terhadap gerusan arus sungai dan mencegah proses meander pada alur sungai. Selain itu harus diadakan pengamanan-pengamanan terhadap kemungkinan kerusakan terhadap bangunan semacam ini, karena disaat terjadinya banjir bangunan tersebut akan tenggelam seluruhnya.

3)      Perkuatan lereng menerus (high water revetment).
Perkuatan lereng menerus dibangun pada lereng tanggul dan tebing sungai secara menerus (pada bagian sungai yang tidak ada bantarannya).
2.      Pengarah Arus ( Krib )

Krib adalah bangunan yang dibuat mulai dari tebing sungai kearah tengah, guna mengatur arus sungai dan tujuan utamanya adalah :
a)      Mengatur arah arus sungai,
b)      Mengurangi kecepatan arus sungai sepanjang tebing sungai,
c)       Mempercepat sedimentasi,
d)      Menjamin keamanan tanggul atau tebing terhadap gerusan,
e)      Mempetahankan lebar dan kedalaman air pada alur sungai,
f)       Mengonsentrasikan arus sungai dan memudahkan penyadapan.

Krib juga adalah bangunan air yang secara aktif mengatur arah arus sungai dan mempunyai efek positif yang besar jika dibangun secara benar. Sebaliknya, apabila krib dibangun secara kurang semestinya, maka tebing di seberangnya dan bagian sungai sebelah hilir akan mengalami kerusakan. Karenanya, haruslah dilakukan penelaahan dan penelitian yang sangat seksama sebelum penetapan tipe suatu krib yang akan di bangun. Krib dibedakan atas beberapa macam, yaitu :

1)      Krib Permeable

Gambar 2. Krib Permeable
Pada tipe permeable, air dapat mengalir melalui krib. Bangunan ini akan melindungi tebing terhadap gerusan arus sungai dengan cara meredam energy yang terkandung dalam aliran sepanjang tebing sungai dan bersamaan dengai itu mengndapkan sendimen yang terkandung dalam aliran. Krib permeable terbagi dalam beberapa jenis, antara lain jenis tiang pancang, rangka pyramid, dan jenis rangka kotak. Krib permeable disebut juga dengan krib lolos air. Krib lolos air adalah krib yang diantara bagian-bagian konstruksinya dapat dilewati aliran, sehingga kecepatannya akan berkurang karena terjadinya gesekan dengan bagian konstruksi krib tersebut dan memungkinkan adanya endapan angkutan muatan di tempat ini.

2)      Krib Impermeable

Gambar 3. Krib Impermeable
Krib dengan konstruksi tipe impermeable disebut juga krib padat atau krib tidak lolos air, sebab air sungai tidak dapat mengalir melalui tubuh krib. Bangunan ini digunakan untuk membelokkan arah arus sungai dan karenanya sering terjadi gerusan yang cukup dalam di depan ujung krib atau bagian sungai di sebelah hilirnya. Untuk mencegah gerusan, di pertimbangkan penempatan pelindung dengan konstruksi fleksibel seperti matras atau hamparan pelindung batu sebagai pelengkap dari krib padat. Dari segi konstruksi, terdapat beberapa jenis krib impermeable misalnya brojong kawat, matras dan pasangan batu.

3)      Krib Semi Permeable
Krib semi permeable ini berfungsi ganda yaitu sebagai krib permeable dan krib padat. Biasanya bagian yang padat terletak disebelah bawah dan berfungsi pula sebagai pondasi. Sedangkan bagian atasnya merupakan konstruksi yang permeable disesuaikan dengan fungsi dan kondisi setempat. Krib semi permeable disebut juga dengan Krib semi lulus air adalah krib yang dibentuk oleh susunan pasangan batu kosong sehingga rembesan air masih dapat terjadi antara batu-batu kosong.

4)      Krib Silang dan Memanjang
Krib yang formasinya tegak lurus atau hamper tegak lrus sungai dapat merintangi arus dan dinamakan krib melintang. Sedangkan krib yang  formasinya hamper sejajar arah arus sungai di sebut krib memanjang.
3.   Tanggul

Tanggul disepanjang sungai adalah salah satu bangunan yang paling utama dan paling penting dalam usaha melindungi kehidupan dan harta benda masyarakat terhadap genangan-genanganyang disebabkan oleh banjir dan badai (gelombang pasang). Tanggul dibangun terutama dengan konstruksi urugan tanah, karena tanggul merupakan bangunan menerus yang sangat panjang serta membutuhkan bahan urugan yang volumenya sangat besar karena tanah merupakan bahan yang sangat mudah penggarapannya dan setelah menjadi tanggul sangat mudah pula menyesuaikan diri dengan lapisan tanah pondasi yang mendukungnya serta mudah pula menyesuaikan dengan kemungkinan penurunan yang tidak rata, sehingga perbaikan yang disebabkan oleh penurunan tersebut mudah dikerjakan.
Gambar 4. Jenis – Jenis Tanggul
Berdasarkan fungsi dan dimensi tempat serta bahan yang dipakai dan kondisi topografi setempat, tanggul dapat dibedakan sebagai berikut :

a)      Tanggul utama
Bangunan tanggul sepanjang kanan-kiri sungai guna menampung debit banjir rencana.

b)      Tanggul sekunder
Tanggul yang dibangun sejajar tanggul utama, baik di atas bantaran di depan tanggul utama yang disebut tanggul musim panas maupun di belakang tanggul utam yang berfungsi untuk pertahanan kedua, andaikan terjadi bobolan pada tanggul utama. Tergantung pada pentingnya suatu areal yang dilindungi kadang-kadang dibangun pula tanggul tersier.

c)       Tanggul terbuka
Pada sungai-sungai yang deras arusnya, biasanya dapt dibangun tanggul-tanggul yang tidak menerus, tetapi terputus-putus. Dengan demikian puncak banjir yang tinggi tetapi periode waktunya pendek dapat dipotong, karena sebagian banjir mengalir keluar melalui celah-celah antara tanggul-tanggul tersebut memasuki areal-areal di belakang tanggul yang dipersiapkan untuk penampungan banjir sementara. Biasanya areal-areal penampungan tersebut dikelilingi tanggul-tanggul pula. Setelah banjir mereda, maka air yang tertampung tersebut, kemudian mengalir kembali ke dalam sungai melalui celah-celah ini. Jadi tidak diperlukan adanya pintu-pintu atau pelimpah serta bangunan pelengkap lainnya.
B.      Bangunan Pengendali Sedimen

Bangunan pengendali sedimen adalah suatu bangunan air yang dibangun pada sungai dan berfungsi Mencegah terjadinya sedimentasi. Sedimen terbawa hanyut oleh aliran air, yang dapat dibedakan sebagai endapan dasar, dan muatan melayang. Karena muatan dasar senantiasa bergerak, maka permukaan dasar sungai kadang-kadang naik, tetapi kadang-kadang turun ( degradasi ). Sedangkan muatan melayang tidak berpengaruh pada alterasi dasar sungai, tetapi dapat dapat mengendap di dasar waduk-waduk, sehingga bisa menimbulkan berbagai masalah dan  pendangkalan waduk maupun muara sungai. Berikut adalah beberapa bangunan Pengendalian Sedimen.
1.      Bendung Penahan ( Check Dam )

Check dam adalah bangunan yang berfungsi menampung dan atau menahan sedimen dalam jangka waktu sementara atau tetap, dan harus tetap melewatkan aliran air baik melalui mercu maupun tubuh bangunan. Check dam juga digunakan untuk mengatur kemiringan dasar saluran drainase sehingga mencegah terjadinya penggerusan dasar yang membahayakan stabilitas saluran drainase.
Gambar 5. Check Dam
Bendung-bendung penahan dibangun di sebelah hulu yang berfungsi memperlambat gerakan dan berangsur-angsur mengurangi volume banjir lahar. Untuk menghadapi gaya-gaya yang terdapat pada banjir lahar maka diperlukan bendung penahan yang cukup kuat. Selain itu untuk menampung benturan batu-batu besar, maka mercu dan sayap bendung harus dibuat dari beton atau pasangan yang cukup tebal dan dianjurkan sama dengan diameter maksimum batu-batu yang diperkirakan akan melintasi. Sangat sering runtuhnya bendung penahan disebabkan adanya kelemahan pada sambungan konstruksinya, oleh sebab ini sambungan-sambungan harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Walaupun terdapat sedikit perbedaan perilaku gerakan sedimen, tetapi metode pembuatan desain untuk pengendaliannya hampir sama, kecuali perbedaan pada konstruksi sayap mercu serta ukuran pelimpah dan bahan tubuh bendung. Untuk bendung pengendali gerakan sedimen secara fluvial yang bahannya berbutir halus, mercunya dapat dibuat lebih tipis. Bahan untuk tubuh beton selain beton dan pasangan batu dapat juga dari kayu, bronjong kawat, atau tumpukan batu. Sedangkan untuk bendung penahan gerakan massa biasanya digunakan beton dan pasangan batu. Tipe bendung yang dipakai adalah tipe gravitasi yang lebih rendah dari 15 m.
2.      Bendung Pengatur ( Sabo Dam )

Di samping dapat pula menahan sebagian gerakan sedimen, fungsi utama bendung pengatur adalah untuk mengatur jumlah sedimen yang bergerak secara fluvial dalam kepekatan yang tinggi, sehingga jumlah sedimen yang meluap ke hilir tidak berlebihan. Dengan demikian besarnya sedimen yang masuk akan seimbang dengan kemampuan daya angkut aliran air sungainya, sehingga sedimentasi pada daerah kipas pengendapan dapat dihindarkan.

Gambar 6. Jenis – Jenis Sabo Dam
Pada sungai-sungai yang diperkirakan tidak akan terjadi banjir lahar, tetapi banyak menghanyutkan sedimen dalam bentuk gerakan fluvial, maka bendung-bendung pengatur dibangun berderet-deret di sebelah hulu daerah kipas pengendapan. Untuk sungai-sungai yang berpotensi banjir lahar, maka bendung-bendung ini dibangun di antara lokasi sistem pengendalian lahar dan daerah kipas pengendapan.

Jika tanah pondasi terdiri dari batuan yang lunak, maka gerusan tersebut dapat dicegah dengan pembuatan bendung anakan (sub dam). Kadang-kadang sebuah bendung memerlukan beberapa buah sub-dam, sehingga dapat dicapai kelandaian yang stabil pada dasar alur sungai di hilirnya. Stabilitas dasar alur sungai tersebut dapat diketahui dari ukuran butiran sedimen, debit sungai dan daya angkut sedimen, kemudian barulah jumlah sub-dam dapat ditetapkan. Selanjutnya harus pula diketahui kedalaman gerusan di saat terjadi banjir besar dan menetapkan jumlah sub-dam yang diperlukan, agar dapat dihindarkan terjadinya keruntuhan bendung-bendung secara beruntun. Sabo Dam memiliki beberapa bagian, antara lain:

Gambar 7. Bagian – Bagian Sabo Dam

1. Mercu bendung
2. Pelimpah
3. Sayap
4. Kemiringan bagian hilir
5. Kemiringan bagian hulu
6. Lubang drainase (driphole)
7. Lebar bawah bendung
8. Kolam olak
9. Tembok tepi
10. Sub Dam
3.      Sand Pocket ( Kantong Pasir )

Sand Pocket yaitu bangunan pengendali sedimen yang dibuat di daerah sungai yang berbentuk kipas alluvial untuk menampung sejumlah sedimen yang mengalir cukup besar sehingga sisa dari yang ditahan check dam ditampung disini. Pada umumnya kantong pasir dilengkapi dengan tanggul keliling untuk mencegah limpasan.

Gambar 8. Sand Pocket
4.      Ground Sill atau Ambang Pengendali Dasar

Ground Sill adalah check dam yang rendah dibangun melintang sungai untuk menstabilkan dasar sungai dan mengarahkan aliran sedimen. Bangunan ini direncanakan berupa ambang atau lantai dan berfungsi untuk mengendalikan ketinggian dan kemiringan dasar sungai, agar dapatmengurangi atau menghentikan degradasi sungai. Bangunan ini juga dibangun untuk menjaga agar dasar sungai tidak turun terlalu berlebihan.

Gambar 9. Ground Sill
C.      Bangunan Persungaian Utama


Gambar 10. Bangunan Persungaian Utama
Bangunan utama dimaksudkan sebagai penyadap dari suatu sumber air untuk dialirkan ke seluruh daerah irigasi yang dilayani. Bangunan persungaian utama dapat dibedakan menjadi :

1.      Bendung

Bendung adalah adalah bangunan air dengan kelengkapannya yang dibangun melintang sungai atau sudetan yang sengaja dibuat dengan maksud untuk meninggikan elevasi muka air sungai. Apabila muka air di bendung mencapai elevasi tertentu yang dibutuhkan, maka air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke tempat-ternpat yang memerlukannya. Terdapat beberapa jenis bendung, diantaranya adalah (1) bendung tetap (weir), (2) bendung gerak (barrage) dan (3) bendung karet (inflamble weir). Pada bangunan bendung biasanya dilengkapi dengan bangunan pengelak, peredam energi, bangunan pengambilan, bangunan pembilas , kantong lumpur dan tanggul banjir.

Gambar 11. Bagian Bangunan Persungaian Utama
2.      Pengambilan Bebas
Pengambilan bebas adalah bangunan yang dibuat ditepi sungai menyadap air sungai untuk dialirkan ke daerah irigasi yang dilayani. Perbedaan dengan bendung adalah pada bangunan pengambilan bebas tidak dilakukan pengaturan tinggi muka air di sungai. Untuk dapat mengalirkan air secara gravitasi, muka air di sungai harus lebih tinggi dari daerah irigasi yang dilayani.

Gambar 12. Bagian Bangunan Persungaian Utama

3.      Pengambilan dari waduk

Salah satu fungsi waduk adalah menampung air pada saat terjadi kelebihan air dan mengalirkannya pada saat diperlukan. Dilihat dari kegunaannya, waduk dapat bersifat eka guna dan multi guna. Pada umumnya waduk dibangun memiliki banyak kegunaan seperti untuk irigasi, pembangkit listrik, peredam banjir, pariwisata, dan perikanan. Apabila salah satu kegunaan waduk untuk irigasi, maka pada bangunan outlet dilengkapi dengan bangunan sadap untuk irigasi. Alokasi pemberian air sebagai fungsi luas daerah irigasi yang dilayani serta karakteristik waduk.

Gambar 13. Bagian Bangunan Persungaian Utama

4.      Stasiun Pompa

Bangunan pengambilan air dengan pompa menjadi pilihan apabila upaya-upaya penyadapan air secara gravitasi tidak memungkinkan untuk dilakukan, baik dari segi teknis maupun ekonomis. Salah satu karakteristik pengambilan irigasi dengan pompa adalah investasi awal yang tidak begitu besar namun biaya operasi dan eksploitasi yang sangat besar.
SUMBER MATERI :